Apa yang membuat orang menjadi sufi? Hati yang bersih, bukan baju yang kumal dan nafsu yang liar.
Di saat acara buka bersama di Pondok Pesantren Bumi Shalawat, para jamaah tertegun melihat aksi dan gaya Usman Hadi yang spontan berdiri dan berpidato: "Assalamu'alaikum Wr Wb. Para jamaah yang berbahagia, mari kita bersama-sama menjauhi para pemimpin yang hidupnya tidak sesuai dengan pidatonya. Mereka hanya pandai menumpuk kekayaan. Bila berbicara bagai seorang Zahid, tapi hati mereka tidak tertambat padanya. Ketahuilah, wahai saudara-saudaraku, republik ini sangat membutuhkan pemimpin yang mampu tampil mengukur dirinya dengan keadaan rakyatnya."
Begitu pidato singkat dari seorang yang benar-benar mendambakan adanya keselarasan antara ucapan dan tindakan, terutama bagi seorang pemimpin. Setelah waktu magrib tiba, sambil menikmati segelas es, dia bertanya kepada saya, "Bagaimana menurut pandangan sampeyan tentang sufi sejati?" "Mari salat dulu, nanti acara bisa dilanjut."
Habis berbuka secukupnya, dia menatap sambil konsentrasi yang cukup serius, kemudian mengulangi pertanyaannya, "Tolong Pak Haji, saya butuh jawaban." Karena itu, saya jawab, "Mataku sudah sering melihat wantia cantik, telingaku ikut tersumbat kehidupan yang serba materi, hatiku kegelapan. Tragisnya, sering berbicara pencerahan."
Agar aku bisa menjawab dengan benar, aku berpegang apa yang dikatakan oleh Dzun Nun Al-Misri: Al-shufi idza nathaqa bana nuthquhu 'an al-haqa'iq wa-in sakata nathaqat 'anhu al-jawarih bi-qath al-'ala'iq. Sufi, ketika dia berbicara, hakikat keadaannya. Artinya, dia tidak mengatakan sesuatu yang tidak ada pada dirinya. Dan, ketika dia berdiam diri, sikapnya menunjukkan keadaannya. Artinya, dia secara konsisten berusaha agar hatinya lepas dari ikatan duniawi.
Bilamana seseorang sudah mencapai tingkatan rohani yang tinggi, sifat-sifat Ilahiah senantiasa menghiasinya, bahkan mampu mengalahkan sifat-sifat manusianya yang telah sirna. Karena itu, tidaklah heran bagi mereka, antara berlian dan batu merah sama saja, menurut pandangannya.
Sekadar ilustrasi, beliau Sahabat Abu Bakar As-siddiq pernah membelanjakan seluruh kekayaannya demi kejayaan Islam dan membebaskan para budak serta menyelimuti dirinya dengan jubah bulu domba yang kasar. Kejadian ini sampai didengar dan diketahui oleh Rasulullah SAW. Beliau sempat bertanya kepadanya, "Apa yang engkau tinggalkan untuk keluargamu, wahai Abu Bakar." Dia dengan sopan menjawab, "Hanya Allah dan Rasul-Nya."
Sabda ini mempunyai makna dan cakupan yang luas, sekaligus dapat diambil pelajaran agar kita bisa membedakan antara sufi sejati dan sufi gadungan yang lagi ngetren saat ini. Ketahuilah bahwa sufi sejati, bila berbicara, pembicaraannya sepenuhnya tentang kebenaran, mudah dalam kesulitan, riang dalam bencana. Mendengar sekelumit jawaban saya, dia meneteskan air mata sambil berkata, " Yaa, Allah, bimbinglah kita semua, alangkah indahnya bila masih ada orang-orang sufi yang senantiasa menjemput rahmat Allah untuk menyirami republik ini yang dilanda gersang kejujuran dan ketulusan."
Sudah waktunya kita merapatkan barisan, berani menyuarakan kebenaran dengan tulus bahwa tasawuf bukanlah doktrin tambahan bagi kandungan Alquran dan Assunnah, tetapi merupakan implementasi bagi kerangka agung Islam dalam praktik keseharian jiwa hamba Allah yang beriman.
Ada hal yang cukup memprihatinkan dan sekaligus penting diluruskan bila ada orang yang mengatakan bahwa kerendahan hati merupakan kelemahan, kasih sayang merupakan sikap pengecut, sedangkan kecongkakan adalah kekuatan.
Ketahuilah, Mas Usman Hadi, Allah berfirman kepada kekasih-Nya, Rasulullah Muhamamd SAW, "Jangan susahkan dirimu, nikmatilah kemewahan dengan menggunakan harta kekayaan ini." Rasulullah SAW menjawab, "Yaa, Allah, aku tidak menginginkan itu semua, berilah aku kenyang satu hari dan lapar satu hari."
Mendengar yang demikian, dia memejamkan matanya yang berkaca-kaca dan menadahkan tangannya untuk meratapi kesalahan dan keangkuhannya. Sambil berkata sendiri, "Aku sangat bodoh, selama ini diperbudak kesenangan-kesenangan duniawi yang senantiasa menikam."
Penipuan tak akan berubah menjadi kejujuran walaupun sentuhannya halus dan menarik. Prinsip ini harus jadi pegangan bagi kita semua dalam rangka menyikapi banyaknya sufi-sufi gadungan yang tertawa terbahak-bahak di atas kebodohan. Menjilat pantat ketamakan, mengibarkan bendera keangkuhan, mengisap darah orang-orang miskin dengan janji palsu penuh penipuan.
Mereka menawarkan jalan keluar agar cepat kaya, mobil mewah, banyak uang, tanpa memperhitungkan kengeriannya. Agama hanya mereka jadikan kedok demi kepentingan sesaat dan kepuasan hawa nafsu.
Dalam menghadapi fenomena yang demikian ini, kita dituntut untuk mencari bahan sebanyak-banyaknya dari para kekasih Allah, terutama dari beliau Rasulullah SAW, agar kita mampu meletakkan diri kita sebagai hamba Allah yang senantiasa waspada dari segala bentuk kelalaian.
Dengan kata lain, barang siapa yang menginginkan tingkatan rohani yang tinggi dan berakhlak mulia, mereka harus menjaga dan merawat hati untuk tetap cinta kepada Allah. Sebab, cinta adalah keselarasan. Cinta merupakan cahaya. Bila cinta itu hilang dari hati seseorang, dia bagaikan berada dalam laut kegelapan. Apa yang dinamakan kegelisahan dan penderitaan akan hadir tiada batas dan tepinya.
Pada suatu hari, sahabat Haritsah menyatakan bahwa dia telah memiliki iman yang sejati kepada Allah. Rasulullah SAW bertanya, "Apakah hakikat imanmu?"
Haritsah menjawab, "Telah kutanggalkan sifat-sifat diriku dan aku berpaling dari dunia ini sehingga batu-batu, emas, serta perak dan lempungnya sama saja dalam pandanganku. Kujalani seluruh malam hariku dengan penuh jaga dan segenap siang hariku dengan rasa dahaga hingga aku merasa melihat Singgasana. Tuhanku menjelma dan penghuni surga saling kunjung-mengunjungi dan penghuni neraka saling lempar-melempari."
* KH Agoes Ali Masyhuri, pengasuh Pondok Pesantren Bumi Shalawat, Tulangan, Sidoarjo, Jatim
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar